Iman teguh dalam ketidakpastian melahirkan kesaksian

Dari GBI Danau Bogor Raya
Lompat ke: navigasi, cari

Allah tidak menjanjikan hidup tanpa badai, tetapi menjanjikan penyertaan, hikmat, dan kekuatan agar kita tetap teguh. Di tengah ketidakpastian, iman berarti mempercayai Pribadi Allah yang pasti, meskipun keadaan di sekitar kita tidak pasti.

Bacaan: Mazmur 46; 2 Korintus 1:3-4

Pendahuluan

Tema bulan ini mengajak kita memahami bahwa badai hidup adalah bagian dari perjalanan iman orang percaya. Minggu lalu kita belajar bahwa Allah tidak meninggalkan kita saat badai datang, tetapi justru menyertai kita dan memakai badai untuk mematangkan iman kita. Minggu ini fokusnya adalah ketidakpastian, salah satu bentuk badai yang paling sering kita hadapi. Manusia secara alami menginginkan kepastian dalam kesehatan, pekerjaan, keuangan, maupun masa depan. Namun kenyataannya, tidak ada seorang pun yang dapat menjamin hasil hidup dengan kepastian 100%. Yang justru pasti adalah ini: selama kita hidup di dunia, badai dan pergumulan akan tetap ada. Karena itu, Allah tidak menjanjikan hidup tanpa badai, tetapi menjanjikan penyertaan, hikmat, dan kekuatan agar kita tetap teguh. Di tengah ketidakpastian, iman berarti mempercayai pribadi Allah yang pasti, meskipun keadaan di sekitar kita tidak pasti.

Isi dan sharing

Bagaimana kita dapat memiliki iman yang teguh di dalam ketidakpastian yang dapat melahirkan kesaksian?

  1. Mzm 46:2 Allah adalah tempat perlindungan dan kekuatan, dan Dia terbukti sebagai penolong dalam kesesakan.
  2. Saat kita perhatikan dengan baik apa yang ditulis secara keseluruhan dalam Mazmur 46, kita menemukan bahwa kalimat-kalimat yang ada bukanlah sekedar pengagungan kepada Tuhan dengan iman yang buta, tetapi merupakan pernyataan-pernyataan yang keluar dari fakta-fakta yang ada dan pengalaman yang pernah dilalui. Pemazmur mengungkapkan bahwa bumi penuh dengan berbagai fenomena alam yang kerap merugikan manusia (ayat 3, 4) dan juga berbagai peperangan yang selalu saja terjadi sepanjang sejarah (ayat 10).

    Tetapi melalui semua peristiwa badai dan ketidakpastian tidak ada yang tahu persis kapan gempa atau tsunami berikutnya terjadi sekalipun kini kita punya teknologi canggih, demikian juga dengan perang tidak ada yang tahu kapan bisa terjadi dan seringkali terjadi tiba-tibapemazmur menunjukkan bahwa Allah adalah tempat perlindungan dan penolong. Dan itu terbukti dalam kehidupan bangsa Israel. Kekuatan Yerusalem bukan terletak pada tembok kotanya, melainkan pada kehadiran Allah yang menyertai penduduknya. Demikian juga dalam hidup kita: bukan rumah, pekerjaan, bisnis, atau tabungan yang menjadi perlindungan sejati, tetapi Tuhan sendiri. Semua yang bersifat fisik dapat hilang, tetapi penyertaan Allah tetap teguh.
  3. 2 Kor 1:4 Penyertaan dan pertolongan Tuhan menjadi modal kesaksian bagi kita untuk menghibur mereka yang sedang dalam badai/kesusahan.
  4. Rasul Paulus mengajarkan bahwa Allah adalah Bapa yang penuh belas kasihan dan sumber segala penghiburan. Penghiburan yang ia terima di tengah penderitaan bukan hanya untuk menguatkan dirinya sendiri, tetapi supaya ia sanggup menghibur orang lain yang sedang mengalami kesusahan (2 Korintus 1:3-4). Badai hidup bukan tanda Allah meninggalkan kita. Justru di dalam badai, Allah memelihara, menghibur, dan membentuk kita menjadi saksi kasih setia-Nya. Pengalaman kita bersama Tuhan menjadi sarana untuk menguatkan mereka yang sedang terluka dan putus asa. Karena itu, jangan menunggu badai selesai untuk bersaksi. Sering kali kesaksian yang paling kuat lahir ketika kita tetap percaya, tetap memiliki damai sejahtera, dan tetap memuliakan Kristus di tengah pergumulan. Dunia tidak hanya membutuhkan cerita tentang keberhasilan, tetapi juga kesaksian tentang pengharapan, penghiburan, dan penyertaan Tuhan Yesus di tengah badai.

Kesaksian

Pernahkah saudara mengalami suatu peristiwa yang tidak mengenakkan, tetapi kemudian Allah turun tangan dan peristiwa itu justru kini menjadi modal bagi saudara untuk menolong/menghibur orang lain yang sedang dalam kesusahan yang serupa? Bagikan kesaksian saudara.

Kesimpulan dan saling mendoakan

Dari dua teks yang kita baca hari ini, ada satu garis merah yang terhubungkan: Allah menyertai kita saat kita dalam badai yang Dia izinkan terjadi, dan respons kita akan hal itu adalah kita bersandar pada Allah untuk menghadapinya dan mematangkan iman kita kepada-Nya. Tuhan begitu mengasihimu, percayalah pada-Nya. Amin.

Jadwal