Mukjizat 5 roti dan 2 ikan (Pdt Drs Timotius Adi Tan, MA)

Dari GBI Danau Bogor Raya
Lompat ke: navigasi, cari

Di titik terendah, titik itu bukan titik akhir; tetap bergerak maju, tetap taat kepada Tuhan, karena bagian kita melakukan apa yang Tuhan mau dan bagian Tuhan mengadakan mukjizat. Mulailah dari apa yang ada di dalam tanganmu, kobarkan, maksimalkan dan lakukan yang terbaik, sambil tetap sadar bahwa berkat datangnya dari Tuhan. Iman juga harus disertai hikmat dan strategi—sistem, operasional, detail, dan akurat—supaya apa yang Tuhan percayakan dapat dikembangkan dengan baik.

Saya sangat bersukacita bertemu dengan Bapak, Ibu kembali. Tema ibadah yang kedua adalah Mukjizat Lima Roti dan Dua Ikan.

Saudara, satu-satunya mukjizat yang dicatat oleh keempat Injil adalah cerita tentang lima roti dan dua ikan. Berarti ada sesuatu yang esensial dari cerita ini. Ada prinsip-prinsip yang Saudara bisa tangkap, renungkan, praktikkan, dan jadikan gaya hidup sehari-hari.

Markus 6:30-37,

Kemudian rasul-rasul itu kembali berkumpul dengan Yesus dan memberitahukan kepada-Nya semua yang mereka kerjakan dan ajarkan. Lalu Ia berkata kepada mereka: “Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!” Sebab memang begitu banyaknya orang yang datang dan yang pergi, sehingga makan pun mereka tidak sempat.

Setelah murid-murid-Nya diutus oleh Yesus dan praktik di lapangan, mereka lelah dan capek. Yesus berkata, “Ayo kita istirahat dulu.” Mereka juga belum makan.

Di pihak yang lain, waktu itu Yesus mendengar Yohanes Pembaptis sudah dibunuh oleh Herodes.

Saudara nangkap? Murid-murid sedang capek, lelah, dan perlu istirahat. Yesus juga sedang menghadapi kesedihan. Jadi wajar kalau mereka perlu istirahat.

Maka berangkatlah mereka untuk mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang sunyi. Tetapi pada waktu mereka bertolak banyak orang melihat mereka dan mengetahui tujuan mereka. Dengan mengambil jalan darat segeralah datang orang dari semua kota ke tempat itu sehingga mendahului mereka.

Saudara kebayang adegannya?

Ketika Yesus mendarat, Ia melihat sejumlah besar orang banyak, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka.

Katanya mau istirahat. Tetapi kenyataannya begitu banyak orang yang perlu dilayani, yang susah, yang kelaparan, yang sedang hopeless. Dan Yesus digerakkan oleh apa? Belas kasihan.

Satu-satunya motivasi yang paling murni dalam melayani Tuhan adalah bukan digerakkan oleh kekayaan, bukan karena ingin mendapat posisi, bukan karena ingin memperbesar nama, tetapi digerakkan oleh belas kasihan melihat jiwa-jiwa. Amin.

Ketika hari sudah mulai malam, murid-murid datang kepada Yesus dan berkata bahwa tempat itu sunyi. Mereka menyuruh orang banyak pergi supaya bisa membeli makanan di desa-desa dan kampung-kampung sekitar.

Ada sekitar 5.000 laki-laki. Kalau dihitung dengan perempuan dan anak-anak, jumlahnya tentu lebih banyak. Murid-murid sudah melayani, sudah capek. Masuk akal kalau mereka berkata, “Suruh mereka pergi, cari makan.”

Tetapi ini poinnya. Yesus berkata:

“Kamu harus memberi mereka makan!” (Markus 6:37)

Sekali lagi: Kamu harus memberi mereka makan!

Empat prinsip yang membuat mukjizat terjadi

#1 Di titik terendah, kuasa Allah melimpah

Titik terendah bukan titik akhir. Justru di sanalah kita melihat kuasa Tuhan bekerja.

Di tengah-tengah kecapaian dan kelelahan, seharusnya mereka istirahat dan makan dulu. Di tengah kondisi putus asa, sedang sedih, ditinggalkan orang yang kita cintai, bisnis sedang enggak bagus, kondisi keluarga atau ekonomi sedang di bawah—justru di sanalah Tuhan menantang kita, mendorong kita, memotivasi kita untuk tetap bergerak.

Tetap melayani.
Tetap mencintai keluarga.
Tetap mencari pekerjaan kalau kita sudah di-PHK.
Tetap mencari peluang bisnis di saat keadaan sedang tidak baik.

Di saat titik terendah, ketika rasanya enggak mungkin ada pertolongan, Firman tetap berkata: Bergerak maju ke depan.

Taat walaupun belum kelihatan. Bagian kita melakukan apa yang Tuhan mau. Bagian Tuhan mengadakan mukjizat.

Hari-hari ini enggak mudah, Saudara. Mungkin ada di antara Saudara yang datang ke tempat ini dengan keadaan keuangan sedang susah. Mungkin ada yang hari ini tetap melayani Tuhan, jadi guru Sekolah Minggu, pendoa, sementara keluarga sedang mengalami masalah dan krisis.

Tetapi Saudara masih tetap maju ke depan, datang beribadah, mengasihi Tuhan, memuji Tuhan dengan hati yang hancur, mengangkat tangan, tetap mengucap syukur dalam keadaan yang rasanya sulit sekali untuk mengucap syukur.

Saya sangat menghargai orang-orang yang masih berada di titik bawah, masalah belum selesai, tetapi tetap mencintai keluarga, mengasihi Tuhan, dan melayani Tuhan. Apalagi Bapa kita di surga sangat menghargai ketulusan itu. Kenapa? Karena di titik terendah itulah hati kita diproses Tuhan.

Kapankah orang mengalami perubahan hati yang paling kuat? Apakah pada waktu sedang nyaman? Sedang shopping, bisnis lancar, semuanya enak?

Tidak.

Proses pembentukan yang paling kuat justru pada waktu kita sedang di titik terendah. Pada saat kita sudah tidak bisa pakai ilmu, tidak bisa pakai pengalaman, di titik itulah kita sadar sesadar-sadarnya dan angkat tangan:
“Tuhan, saya enggak bisa apa-apa.”
“Saya enggak ada jalan, Tuhan.”

Pada saat itulah yang ada adalah hati yang hancur: “Tuhan, tolong saya.”

Di saat kita mengangkat tangan, Tuhan turun tangan. Kita berharap kepada sumber pertolongan kita. Siapa nama-Nya? Yesus Kristus Tuhan.

Firman Tuhan dalam Mazmur 126 menggambarkan orang yang sedang menangis tetapi tetap berjalan maju sambil menabur. Walaupun sedang susah, dia tetap bekerja, tetap melayani Tuhan, menolong orang susah, menabur pelayanan, menabur doa, merenungkan Firman, dan bertindak dengan kasih Tuhan. Alkitab berkata dia akan pulang dengan sorak-sorai.

Jadi apa pun keadaan kita, bahkan di titik terendah, saat itulah terlihat apakah hati kita sungguh mencintai Tuhan atau hanya mengandalkan kekuatan diri sendiri. Di titik terendah, Yesus berkata: “Beri mereka makan.”

Saya belajar prinsip ini sejak muda.

Waktu masih muda, saya aktif pelayanan, main gitar, bersama teman-teman dalam pelayanan. Kami pernah membuat komitmen untuk tidak pacaran dulu karena mau fokus pelayanan. Tetapi kemudian saya suka kepada seseorang. Setelah waktunya tiba saya mendatangi dia, lalu ternyata dia berkata bahwa minggu sebelumnya dia sudah menerima orang lain menjadi pacarnya.

Waduh, hati saya hancur. Pulang ke rumah, saya ambil gitar, patah hati. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu. Ternyata anak rohani saya mau konseling. Masalahnya apa? Ditolak cinta juga!

Dalam hati saya sebenarnya bisa berkata, “Kamu ditolak cinta, saya juga sama. Yuk kita nangis bersama.” Tetapi saya belajar sejak muda. Roh Kudus berkata: “Kuatkan dia. Teguhkan dia.”

Hidup bukan karena perasaan, tetapi karena prinsip-prinsip Firman Tuhan. Akhirnya malam itu saya kuatkan dia. Saya berkata bahwa masa depannya masih panjang, Tuhan akan memberi yang terbaik, masa depannya gemilang. Saya doakan dia sampai dia menangis dan berkata, “Terima kasih, saya dikuatkan Tuhan.”

Ketika dia dikuatkan Tuhan, saya juga dikuatkan Tuhan. Sejak itu sampai hari ini saya belajar: ketika sedang susah, sedang di bawah, keadaan tidak baik-baik, lakukan seperti Firman Tuhan: Beri mereka makan.

Mukjizat-mukjizat yang saya alami banyak terjadi pada saat titik nadir. Pada saat pekerjaan tidak memungkinkan, keuangan sedang di bawah, tetapi saya tetap taat kepada Tuhan, bergerak sambil menangis, maju ke depan, menabur benih kasih, menolong orang yang sedang kelaparan, mendoakan orang yang sedang mau cerai, mendoakan orang yang sedang hopeless. Dan saya mengalami sorak-sorai kemenangan bersama dengan Tuhan.

Prinsip ini Saudara tangkap dan bawa pulang: Apa pun situasi keluarga, ekonomi, kesehatan Saudara, bergerak maju ke depan, taat kepada Tuhan.
Bagian Tuhan mengadakan mukjizat.

#2 Mulai dari apa yang ada di tanganmu

Yang kedua: Mulai dari apa yang ada di tanganmu.

Ada seorang anak yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan. Tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini?

Kemudian Yesus menyuruh orang-orang duduk. Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur, lalu membagi-bagikannya kepada mereka. Demikian juga dengan ikan-ikan itu sebanyak yang mereka kehendaki.

Pertanyaannya: Apa yang ada di dalam tangan Saudara? What’s in your hands?

Musa berkata, “Hanya tongkat saja, Tuhan.”
Di belakang ada bangsa Mesir, di depan Laut Teberau.
Tuhan bertanya, “Apa yang ada di tanganmu?” Tongkat.
Gunakan itu.
Mukjizat terjadi.

Daud, apa yang ada di dalam tanganmu?
Ketapel dan batu.
Gunakan itu.
Goliat yang tidak bisa dikalahkan oleh pasukan akhirnya tumbang oleh sesuatu yang ada di tangan Daud.

Janda dalam kisah nabi juga mempunyai sedikit minyak.
Apa yang ada di tanganmu?
Mulai dari situ.

Sering kali anak muda, bahkan orang tua, melihat tren. “Oh, sekarang buka kafe. Sekarang bisnis ini. Sekarang bisnis itu.”

Padahal Tuhan sudah menaruh sesuatu: calling, passion, kekuatan yang memang sudah ada.

Itu yang harus dimaksimalkan.

Saya punya beberapa teman yang bisnisnya sangat bagus, puluhan miliar. Tetapi kemudian mencoba masuk ke bisnis yang bukan bidangnya. Batu bara, usaha lain, akhirnya habis puluhan bahkan ratusan miliar.

Bukan bidangnya.

What’s in your hands?

Minggu kemarin saya mencoba mencatat pekerjaan saya dari umur 20 sampai 65. Ada sekitar 27 pekerjaan. Saya pernah jualan, jadi guru, kepala bank, asuransi, dosen, trainer, motivator, konsultan, dan macam-macam. Banyak muter-muter.

Tetapi dari semua itu saya akhirnya melihat benang merahnya: kekuatan dan passion saya ada di sales dan di SDM, people, manusia. Konseling, mengajar, menjadi trainer, itu bidang saya.

Begitu saya loncat dari bidang itu dan membuka bisnis yang bukan bidang saya, benar saja, beberapa waktu kemudian tutup. Akhirnya saya sadar, “Oh, ini rupanya yang harus saya tekuni.” Setia kepada bidang yang Tuhan sudah taruh.

Kalau Saudara memang kuatnya membuat kue, kembangkan menjadi yang terbaik.
Kalau kuatnya membuat combro atau tutug oncom, kembangkan menjadi yang terbaik.

Siapa tahu menjadi yang terenak se-Bogor.

Jangan hanya tertarik karena, “Oh, ini sedang musim.”

Tanya: What do you have? Apa yang ada di dalam tanganmu?

Saya pernah membimbing seorang anak rohani yang bingung dengan pekerjaannya. Dia bekerja di perusahaan tas sebagai sales, juga melayani sebagai worship leader, dan kadang menjadi MC serta mencoba properti.

Saya tanya kekuatannya di mana. Kalau dia melayani, bicara, menyanyi, menjadi presenter, dia happy. Dibayar atau tidak dibayar, dia menikmati! Berarti ada kekuatan di situ.

Saya bilang, “Fokus.” Dia mulai mengembangkan apa yang ada dalam tangannya sampai akhirnya menjadi MC yang sangat berhasil.

Kenapa? What’s in your hands? Apa yang ada di dalam tanganmu?
Kobarkan.
Kembangkan.
Maksimalkan menjadi yang terbaik dengan pertolongan Tuhan.

#3 Berkat datangnya dari Allah

Yang ketiga: Berkat datangnya dari Allah.

Firman Tuhan berkata bahwa Yesus mengambil lima roti dan dua ikan, menengadah ke langit dan mengucap berkat. Lalu Dia memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya untuk dibagikan kepada orang banyak.

Katakan: Berkat datangnya dari Allah.

Kalau Tuhan sudah membuka pintu, enggak ada satu pun yang bisa menutupnya. Kalau Tuhan sudah menutup pintu, enggak ada satu pun yang bisa membukanya.

Kita harus sadar sesadar-sadarnya: Berkat itu datangnya dari Tuhan.

Ada Firman yang berkata:

Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia... tetapi diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN.

Mengandalkan Tuhan bukan berarti kita tidak melakukan apa-apa. Tuhan memang enggak kelihatan. Berkat-Nya bisa datang melalui manusia, melalui keahlian, melalui koneksi. Tetapi jangan sampai kita mengandalkan manusia.

Manusia gampang berubah. Kalau terlalu berharap kepada pendeta, pengusaha, pejabat, kita bisa kecewa. Karena itu saya belajar: Tuhan satu-satunya Penolong saya.

Tetapi iman tanpa perbuatan adalah mati. Perbuatan saya apa?
Network dengan orang.
Negosiasi.
Kerja yang terbaik.
Kalau satu orang menolak, enggak apa-apa.
Dua orang menolak, enggak apa-apa.
Yang ketiga tidak cocok, enggak apa-apa.

Kenapa saya enggak sakit hati? Kenapa enggak kecewa? Karena saya tahu saya sedang menabur kepada orang, tetapi berkat datangnya dari Tuhan.

Bisa saja setelah satu, dua, tiga, empat orang menolak, tiba-tiba orang yang tidak kita harapkan datang membantu dan membuka jalan. Tuhan bahkan bisa memakai orang yang tidak seiman untuk membuka jalan.

Saya tidak akan menyembah manusia, karena saya tahu: Berkat datangnya dari Tuhan saja. Kalau kita tidak mengerti prinsip ini, kita gampang kecewa.

#4 Tertib dan teratur: hikmat dan strategi

Yang terakhir, yang keempat: Tertib dan teratur. Hikmat dan strategi.

Firman Tuhan berkata semua orang makan sampai kenyang. Setelah itu dikumpulkan potongan-potongan roti yang tersisa dan ada dua belas bakul penuh. Ini berbicara tentang hikmat dan strategi.

Mari kita ulang empat poinnya.

  • Yang pertama: Di titik terendah, melangkahlah dalam ketaatan. Mukjizat akan terjadi.
  • Yang kedua: Apa yang ada di dalam tanganmu?
    Kobarkan.
    Maksimalkan.
    Do the best.
    Be excellent.
  • Yang ketiga: Berkat datangnya dari Tuhan.
  • Dan yang keempat: Hikmat dan strategi.

Poin keempat ini jarang diajarkan di gereja. Iman penting. Tetapi kita juga harus punya hikmat. Harus ada strategi. Harus ada sistem. Operasional. Detail. Akurat. Semua itu diperlukan untuk mengembangkan gereja Tuhan maupun perusahaan tempat Tuhan menaruh kita. Hikmat dan strategi.

Penutup

Saya percaya mukjizat lima roti dan dua ikan ini, yang akhirnya memberi makan ribuan orang dan menyisakan dua belas bakul, juga bisa terjadi dalam hidup Saudara dan saya dengan menerapkan prinsip-prinsip Firman Tuhan ini.

Haleluya. Tuhan memberkati.

Video