Hidup sebagai penyembah (Pdt Chris Silitonga, MEd)
| Ringkasan Khotbah | |
|---|---|
| Ibadah | Ibadah Raya |
| Tanggal | Minggu, 1 November 2026 |
| Gereja | GBI Danau Bogor Raya |
| Lokasi | Grha Amal Kasih |
| Kota | Bogor |
| Video | YouTube |
| Khotbah lainnya | |
| |
| |
| |
Penyembahan bukan hanya ekspresi melalui nyanyian, tepuk tangan, tarian, dan persembahan, tetapi seluruh kehidupan kita dari Senin sampai Senin harus menjadi penyembahan kepada Tuhan. Cara hidup seorang penyembah harus sejalan dengan Yesus, mengarah kepada perkenanan Tuhan melalui hidup yang hidup, kudus, dan berkenan kepada Allah, serta mencerminkan sifat Allah dengan berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati. Kenali Tuhan Yesus lebih lagi melalui keempat Injil, izinkan Roh Kudus menuntun setiap keputusan, dan persembahkan keseluruhan hidup kita sendiri sebagai penyembahan kepada Tuhan.
Shalom, senang bisa bertemu Bapak, Ibu, Saudara kembali, jemaat Tuhan yang luar biasa di tempat ini, GBI Danau Bogor Raya. Sungguh sukacita bisa berada di antara Bapak, Ibu, Saudara sekalian. Haleluya.
Di ibadah pagi ini saya mau mengangkat sebuah tema yang saya beri judul: Hidup sebagai penyembah. Katakan, “Hidup sebagai penyembah.”
Saudara-saudara, gereja kita, keluarga besar Rayon 7, juga bagian yang tidak terpisahkan dari keluarga besar GBI Gatot Subroto di bawah Pastor Niko. Kita tahu mengenai perihal penyembah dan penyembahan. Tapi hari ini kelihatannya adalah suatu momen yang tepat saat kita mulai memasuki masa Natal, November, Advent sebentar lagi, untuk melihat perihal penyembahan ini dalam kaitan hidup kita sebagai orang-orang yang mengklaim bahwa kita adalah penyembah Tuhan.
Saya teringat di pertengahan tahun ini, Juli-Agustus, saya mendengarkan kembali khotbah-khotbah dari Gembala Pembina kita, Pastor Niko. Saya teringat di bulan Januari, ketika beliau akan menutup khotbah awal tahun 2026, beliau mengangkat sebuah ayat dari Maleakhi 3:18,
- Maka kamu akan kembali melihat perbedaan antara orang benar dan orang fasik, antara orang yang beribadah kepada Allah dan orang yang tidak beribadah kepada-Nya.
Yang percaya Firman Tuhan memberikan kekuatan, katakan amin. Beri tepuk tangan kemuliaan buat Tuhan.
Ketika bulan Januari saya dengar ayat ini, dalam hati saya berkata, “Yes, Tuhan, amin. Tahun 2026 Engkau akan membuat perbedaan antara orang yang bergereja dan orang yang tidak bergereja, antara orang Kristen dan non-Kristen.”
Saya berpikir begitu.
Tetapi ternyata perjalanan dari Januari sampai Juli, Agustus, dan sekarang kita tiba di November, saya percaya Saudara juga memperhatikan dengan baik. Ternyata banyak sekali di tahun 2026 ini orang yang mengaku Kristen juga bisa terlibat dalam kriminalitas, korupsi, dan macam-macam pelanggaran.
Akhirnya saya mengerti ketika ayat ini saya baca ulang: ini bukan untuk membedakan antara orang yang jemaat Tuhan dan yang bukan jemaat Tuhan. Ini bukan perbedaan antara orang Kristen dan non-Kristen.
Maleakhi ditulis untuk umat Tuhan di Perjanjian Lama dan juga menjadi peringatan bagi kita.
Ayat ini artinya begini: kita akan melihat di antara kita sendiri mana yang benar-benar beribadah kepada Tuhan dan mana yang sebenarnya tidak beribadah kepada Tuhan.
Kita akan melihat di dalam gereja, di dalam COOL, di antara semua yang mengaku, “Saya Kristen, saya pengikut Kristus,” mana yang benar-benar beribadah kepada Tuhan dan mana yang cuma sekadar hadir di gereja karena, “Ya, saya Kristen. Kalau saya enggak ke gereja, mau ke mana lagi hari Minggu?”
Saya berdoa jemaat DBR yang hadir di tempat ini datang karena benar-benar sungguh-sungguh mau beribadah kepada Tuhan.
Kalau kita mengklaim kita adalah penyembah Tuhan, pertanyaannya: Sudahkah kita hidup sebagai apa yang kita klaim?
Itu yang mau saya bagikan pagi hari ini.
Dua sisi penyembahan
Perihal penyembahan biasanya kita memahami satu sisi, tetapi mungkin lupa ada sisi yang lain. Penyembahan berbicara tentang dua sisi.
- Yang pertama adalah ekspresi.
- Tapi itu baru satu sisi dari penyembahan. Ada sisi yang lain yaitu keseharian hidup si penyembah.
Waktu Saudara menyanyi, tepuk tangan, menari, memberikan persembahan, itu semua adalah ekspresi penyembahan kita kepada Tuhan.
Dan ekspresi penyembahan harus ekspresif. Kalau tepuk tangan, tangannya bunyi. Kalau menari, menari sungguh-sungguh.
Saya percaya para orang tua juga mengharapkan anak-anaknya ekspresif kepada mereka. Tidak peduli anaknya introvert atau pemalu, orang tua tetap ingin anaknya menunjukkan ekspresi. Apalagi Bapa kita di surga. Dia sangat menghargai dan menginginkan pujian serta penyembahan kita ekspresif di hadapan-Nya.
Beri tepuk tangan yang ekspresif kepada Tuhan Yesus. Haleluya!Bagaimana kita menjalankan keseharian hidup kita sebagai orang yang mengklaim, “Saya penyembah Yesus,” itu juga penyembahan.
Sebagaimana mulut, tangan, kaki, dan tubuh ini dipergunakan di gereja, di COOL, di ibadah-ibadah untuk menyembah Tuhan secara ekspresif, demikian juga mata, mulut, kaki, tangan, dan seluruh keberadaan diri kita harus menjadi penyembahan bagi Tuhan dari Senin sampai Senin.
Sering kali kita berpikir, “Saya sudah tepuk tangan, sudah menaikkan suara di gereja, sudah menyembah.” Good. Yes, but that's only like 50%. Itu baru sebagian. Dari Senin sampai Senin, semuanya ini dipakai enggak untuk menyembah Tuhan? Dipersembahkan enggak untuk Tuhan?
Bagaimana kita menjalankan pekerjaan, studi, bahkan masa pensiun kita? Sudahkah semuanya itu menjadi penyembahan bagi Tuhan?
Ini yang mau saya angkat hari ini.Sebagai keluarga besar GBI, kita sangat mengerti bahwa penyembahan menjadi DNA kita. Tetapi menjelang semakin mendekatnya akhir tahun 2026, kita harus mulai mawas diri memperhatikan hidup kita sepanjang tahun ini, juga untuk menyongsong tahun 2027 yang kita percaya Tuhan akan berikan kepada kita.
#1 Cara hidup seorang penyembah harus sejalan dengan sosok yang ia sembah
Yang pertama: Cara hidup seorang penyembah harus sejalan dengan sosok yang ia sembah.
Kalau kita berkata, “Saya menyembah Allah, Bapa, Putra, dan Roh Kudus,” maka saya harus ada di jalan yang sama dengan Dia. Kalau saya berkata saya menyembah Yesus, saya enggak boleh memakai jalan lain. Saya harus berada di jalan sebagaimana yang Yesus telah jalani.
Perhatikan perkataan Yesus dalam Yohanes 4:23-24,
- Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.
Ayat ini muncul dari percakapan Tuhan Yesus dengan seorang perempuan Samaria di sebuah sumur.
Salah satu pembicaraan mereka adalah tentang tempat penyembahan. Orang Samaria dan orang Yahudi memiliki persoalan besar mengenai tempat menyembah Allah.
Lalu Yesus berkata bahwa waktunya akan tiba dan sudah tiba sekarang bahwa orang dapat menyembah Allah dalam roh dan kebenaran. Awas, jangan dipelintir. Jangan bilang, “Kata Pak Chris ternyata bisa menyembah Allah di mana saja, jadi minggu depan saya enggak datang ke DBR.” Saya enggak ngomong begitu.
Kita tetap datang beribadah bersama. Tetapi jangan lupa bahwa penyembahan bukan hanya ekspresi di dalam ibadah.
Yesus mengingatkan: Roh dan kebenaran.
Menyembah dalam roh
Apa artinya menyembah dalam roh secara ekspresif? Ekspresinya adalah berbahasa roh. Menyembah Allah dalam roh. Narasi Lukas dan Kisah Para Rasul, setiap kali memuji dalam roh, bersuka dalam roh, sudah pasti glosolalia, sudah pasti berbahasa roh.
Halo, generasi muda dan yang mungkin sedikit tidak lebih muda di tempat ini ya. Ikuti apa kata firman Tuhan. Bukan apa yang dikatakan pengkhotbah di TikTok atau di YouTube atau di preacher yang mana mengatakan bahasa roh sesat.
Dari mana berani-berani banget bahasa roh sesat? Yesus saja berbahasa roh, kok berani ngomong Yesus sesat. Jangan Saudara!
Bahasa roh harus diterjemahkan kan Pak? Iya, diterjemahkan kalau digunakan untuk mendoakan orang lain. Mana bisa mendoakan orang lain pakai bahasa roh yang dia ngga ngerti, harus diterjemahkan. Tapi kalau di ibadah Anda lagi menaikkan penyembahan kepada Tuhan, Tuhan tidak perlu penerjemahan! Mengerti Saudara ya?
Ada lagi yang bilang, tapi orang ngga ngerti Pak. Loh, kita lagi nyembah Tuhan, bukan nyembah orang di sebelah. Alkitab itu simpel sebenarnya.
Jadi, menyembah dalam roh itu ekspresinya adalah berbahasa roh.
Tetapi dalam kehidupan sehari-hari bagaimana? Pertanyaannya dari Senin sampai Senin: Anda dengarkan enggak suara Roh Kudus yang berdiam dalam hidupmu?
Roh Kudus berbicara kepada kita.
Kalau Tuhan bilang jangan, kita nurut enggak?
Kalau Tuhan bilang maju, kita maju enggak?
Kalau Tuhan bilang berhenti, kita berhenti atau enggak?
Misalnya ada proposal bisnis datang. “Wah, angkanya bagus sekali. Kayaknya keren nih bisnis.” Tetapi Roh Kudus mengingatkan: “Jangan. Ada sesuatu yang enggak benar di sini.” Tapi angkanya bagus.
Apa yang biasanya manusia lakukan kalau hati sudah dikeraskan? Cari pembenaran.
“Tapi kan...”
“Tapi kan...”
Hati-hati! Cek sendiri, Saudara. Dalam seminggu ini berapa kali kita mengeraskan hati kepada Tuhan dan mencari rasionalisasi?
“Kalau enggak begini, enggak dapat bisnis.”
“Kalau enggak begini, enggak dapat kuliahnya.”
“Kalau enggak begini, enggak dapat cuannya.”
Dengarkan suara Roh Kudus!
Firman Tuhan itu seperti pisau dokter bedah. Dibuka, tetapi untuk dibereskan di dalam. Yang rusak diperbaiki, yang enggak boleh ada dibuang oleh Tuhan kalau kita izinkan. Kalau dalam seminggu ini kita sudah beberapa kali mengeraskan hati, bertobat. Minta ampun kepada Tuhan dan berkata: “Apa pun yang Roh Kudus katakan, saya akan dengarkan dan saya akan turuti.”
Menyembah dalam kebenaran
Lalu Yesus berkata: Dalam roh dan dalam kebenaran. Apa itu kebenaran?
Kalau Saudara berkata, “Kebenaran artinya Firman Tuhan. Baca Alkitab setiap hari. Perkatakan siang dan malam.”
Betul! Tetapi bagaimana kesehariannya? Ketika Anda berkata, “Saya hidup dalam kebenaran,” artinya: Anda mengikuti Yesus. Anda menjalani hidup sebagaimana Yesus telah hidup.
Kalau Saudara melihat Alkitab dari Kejadian sampai Wahyu, Firman itu telah menjadi manusia. Siapa? Yesus!
- Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah... Firman itu telah menjadi manusia.
Jadi kalau Saudara berkata, “Saya hidup di dalam kebenaran,” sederhananya: Hiduplah sebagaimana Yesus telah hidup.
Perhatikan Yesus.
Apa yang Yesus lakukan, ikuti.
Apa yang Yesus larang, jangan dilakukan.
Apa yang Yesus jalani, teladani.
That's it.
Kembali kepada Yesus.
Yesus dibaptis? Ikuti teladan-Nya.
Yesus memberikan persembahan? Kita juga belajar memberi.
Yesus membayar pajak? Bayar pajak.
Yesus perhatian kepada orang tua-Nya? Hormati orang tua.
Jadi persoalannya sederhana: Mau mengikuti Yesus atau tidak? Cara hidup seorang penyembah harus sejalan dengan sosok yang dia sembah.
#2 Hidup seorang penyembah mengarah pada perkenanan Tuhan
Poin yang kedua: Hidup yang dijalani seorang penyembah mengarah hanya pada satu target, yaitu perkenanan Tuhan.
Sebagai penyembah kita berjalan di jalan yang Yesus jalani. Targetnya apa? Perkenanan Tuhan.
Saudara-saudara, jangan salah paham antara kasih Tuhan dan perkenanan Tuhan:
- Kasih Tuhan berlaku bagi semua orang.
- Tetapi sebagai orang yang sudah ada dalam Kristus, kita ingin hidup menyenangkan hati Allah yang sudah mengasihi kita.
Seperti seorang anak kepada orang tuanya. Saya percaya semua orang tua mengasihi anaknya, apa pun yang terjadi. Berprestasi atau tidak berprestasi, bandel atau baik, Anda tetap mengasihi anak Anda. Tetapi ketika anak melakukan sesuatu yang menyenangkan hati Anda, tentu ada sukacita.
Kalau kita sebagai penyembah, target kita adalah: Menyenangkan hati Tuhan. Bukan karena Tuhan tidak mengasihi kita. Tuhan sudah mengasihi kita! Tetapi kita ingin menyenangkan hati Dia yang sudah menyelamatkan kita.
Persembahan yang hidup, kudus, dan berkenan
Rasul Paulus menulis dalam Roma 12:1,
- Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu supaya mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.
Karena kita sudah diselamatkan, berikan tubuh kita sebagai persembahan. Ada tiga kata kunci di sini: hidup, kudus, dan berkenan kepada Allah.
Hidup
Kalau dikatakan hidup, bahasa Yunaninya zaō, Banyak orang Kristen, entah sadar atau enggak sadar, walaupun hidup tetapi seperti tidak hidup. Apatis. Pesimis. Putus asa. Setiap melihat apa-apa negatif.
Jangan jadi “Kristen zombie”. Hidup tetapi seperti mati. Yang mestinya dari mulutnya keluar gospel, malah gosip yang keluar. Jangan begitu.
Ya, hidup memang sedang susah. Ekonomi bisa sulit. Tetapi kita punya Roh Kudus di dalam kita yang jauh lebih besar daripada persoalan apa pun di dunia ini.
Justru kita harus berkata:
“Saya tidak putus asa.”
“Saya tidak apatis.”
“Saya tidak pesimis.”
Itu namanya hidup!
Kudus
Yang kedua: Kudus. Bahasa Yunaninya hagios.
Kalau Saudara berkata kudus artinya tidak ngomong kasar, tidak ngomong jorok, tidak menonton pornografi, dan sebagainya, itu baik saja.
Tetapi dalam keseharian, hagios juga berarti: Tidak ikut-ikutan cara dunia.
Yang punya kuasa menandatangani kuitansi, pastikan angka yang tercantum sama dengan uang yang keluar. Jangan korupsi.
Yang berdagang, kalau mengambil untung jangan keterlaluan terhadap customer.
Yang sedang kuliah, kerjakan tugasmu dengan baik. Jangan cari joki. Jangan suruh AI mengerjakan semuanya. Tanya AI boleh, tetapi Saudara sendiri harus mengerjakannya.
Yang menjadi karyawan, pegawai negeri atau swasta, kalau mau naik pangkat: Prestasi. Bukan kasih suap kepada atasan.
Lawannya integritas adalah jalan pintas. Hati-hati.
Kalau kita mengumpulkan harta di bumi, bumi ini akan berakhir.
Saya dan istri saya tidak mau hanya mengumpulkan harta di bumi. Kami mau mengumpulkan harta untuk Yerusalem baru.
Kalau tidak melakukan cara dunia lalu tidak dapat jabatan atau “bintang”, lebih baik begitu daripada mahkota di surga hilang. Jangan ikut-ikutan cara dunia, Tuhan sudah mau datang.
Jangan sampai kaki kita sudah terlalu melekat kepada dunia.
Jangan kompromikan kekudusan karena kebutuhan
Saya tahu ekonomi sedang susah. Ibu-ibu, jangan paksa anakmu atau suamimu bekerja sedemikian rupa sampai dia kompromi dengan dosa. Kalau uang sedang kurang, hemat dulu. Enggak usah beli yang mahal-mahal. Minum kopi di rumah, ngga apa-apa, ngga usah beli kopi yang mahal.
Berkenaan kepada Allah
Jangan sampai hagios-mu terkompromi. Dan hidup yang kudus itulah yang mendatangkan perkenanan bagi Allah.
#3 Hidup seorang penyembah mencerminkan sifat-sifat Allah yang disembahnya
Yang ketiga dan terakhir: Hidup seorang penyembah mencerminkan sifat-sifat Allah yang disembahnya.
Di dalam jalannya Tuhan, menyenangkan hati Tuhan, yang terpancar dari kehidupan sehari-hari adalah sifat-sifat Allah yang kita sembah. Roh Kudus yang ada di dalam kita itu yang dipancarkan.
Firman Tuhan dalam Mikha 6:8 berkata,
- Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?
Apa yang harus terpancar dari hidup kita? Tiga hal:
- Berlaku adil
- Mencintai kesetiaan
- Hidup dengan rendah hati
Berlaku adil
Bapak, Ibu, Saudara yang menjadi atasan atau punya perusahaan: Adil kepada karyawanmu. Kalau memang perlu diberi apresiasi, appreciate. Kalau memang perlu disiplin, disiplin. Tidak lebih, tidak kurang.
Para orang tua, adillah kepada semua anakmu. Jangan hanya mengagungkan anak tertentu. Saya sudah melihat terlalu banyak anak-anak yang akhirnya bertengkar di rumah karena merasa: “Giliran abang atau koko diperhatikan, saya cuma tambahan.” Banyak anak akhirnya ingin keluar dari rumah karena tidak betah. Enough is enough. Perlakukan anak-anakmu dengan adil sesuai porsinya.
Bagaimana kau bisa adil di dunia kerja kalau kepada keluargamu sendiri kau tidak memakai prinsip yang sama?
Mencintai kesetiaan
Katakan: Setia.
Setia kepada pasangan hidupmu.
Setia kepada keluargamu.
Setia kepada gereja.
Setia kepada COOL.
Setia kepada pekerjaan.
Setia kepada Tuhan.
Tuhan itu setia.
Itu ciri khas-Nya. Amin!
Hidup dengan rendah hati
Yang ketiga: Rendah hati di hadapan Allah. Kalau engkau tidak bisa rendah hati di hadapan Allah, bagaimana engkau bisa rendah hati di hadapan manusia?
Jangan sombong. Kalau ada masalah, datang kepada Tuhan. Berdoa kepada Tuhan. Semakin engkau diberkati Tuhan, semakin kau berkata: “Engkau harus semakin besar, aku harus semakin kecil. Semua kekayaan dan berkat yang aku terima bukan karena kuat dan gagahku, tetapi karena Engkau, Tuhan."
Aplikasi
Bagaimana supaya kita hidup sebagai penyembah di hadapan Tuhan?
- Yang pertama: Kenali Tuhan Yesus lebih dalam.
- Setiap kali mengambil keputusan, pikirkan: apakah Tuhan berkenan dengan hal itu?
Penutup
Sebagai bagian terakhir, camkan ini baik-baik.
- Penyembahan kepada Tuhan tidak dapat diwakili atau dititipkan melalui seseorang.
- Penyembahan harus engkau persembahkan sendiri kepada-Nya.
Uang, baju, makanan bisa kau titip. Tetapi tepuk tanganmu, tarianmu di gereja, enggak bisa kau titip kepada orang lain. Kau harus datang sendiri.
Pekerjaanmu, hidupmu, hagios-mu, enggak bisa kau titip kepada karyawan, bos, atau siapa pun. Engkau yang harus menjalankan hagios itu sendiri di hadapan Tuhan.
Persembahkan keseluruhan hidup kita sebagai penyembahan kepada Tuhan.
Yang mengerti dan yang mau melakukannya, katakan amin!
Beri kemuliaan buat Tuhan!
Nyanyi:
Sujud di altar-Nya
Kubawa hidupku
Kuterima anugerah-Nya
Dia ampuniku dan bebaskanku
Dia ubah hidupku
Baharui hatiku
Sesuatu terjadi
Saat datang di altar-Nya